Ketika mendengar kata Kotagede, mungkin yang terlintas pertama kali adalah
berbagai jenis kerajinan dari perak. Kotagede yang terletak di Kabupaten
Bantul ini memang terkenal sebagai sentra kerajinan perak.

Sebenarnya Kotagede tidak melulu tentang wisata kerajinan perak saja lho,
kamu juga bisa berwisata sejarah. Pasalnya, wilayah tersebut pernah menjadi
ibu kota Kerajaan Mataram Islam.

Nah, salah satu destinasi menarik untuk dikunjungi di Kotagede yakni Masjid
Gedhe Mataram atau Masjid Agung Kotagede yang berdiri pada abad ke-16.

1. Dibangun pada masa pemerintahan Ki Ageng Pamanahan

Asal muasal kisah Masjid Gedhe Mataram terjadi ketika Ki Ageng
Pamanahan membuka alas atau hutan Mentaok di Kotagede.
Ia berniat membangun pemukiman yang kelak berfungsi
sebagai pusat pemerintahan kerajaan. Masjid Agung
Kotagede pun didirikan dan selesai dibangun pada 1589
atau pada akhir abad ke-16


Struktur bangunan masjid awalnya masih berupa langgar.
Baru ketika anak Ki Ageng Pamanahan, Panembahan Senopati,
bertahta, surau tersebut dipindahkan. Kemudian,
langgar dibangun menjadi Masjid Agung Kotagede

2. Berdiri berdasarkan konsep masjid-makam

Bangunan Masjid Gedhe Mataram dibagi menjadi beberapa bagian,
yakni halaman, pagar keliling, masjid, dan makam. Makam yang
terdapat di Masjid Agung Kotagede hanya diperuntukkan bagi
keluarga besar trah raja-raja Mataram Islam.

Ada juga tempat peristirahatan terakhir yang terletak di belakang masjid.
Tempat tokoh penting kerajaan seperti Ki Ageng Pamanahan dan
Panembahan Senopati disemayamkan. Ada pula makam Sultan
Hamengku Buwono II serta kuburan Panembahan Seda Krapyak
yang merupakan ayah raja terakhir Mataram Islam, Sultan Agung.

3. Bentuk akulturasi dengan budaya lain

Meski menjadi tempat ibadah bagi umat muslim, Masjid Agung Kotagede
merupakan peninggalan sejarah akulturasi budaya yang berlangsung
saat era Kerajaan Mataram Islam. Beberapa jejak budaya Islam, Jawa,
Hindu, dan China bisa ditemukan pada tata bangunan masjid berusia
ratusan tahun tersebut.

Peneliti dari Universitas Diponegoro dalam jurnal “Akulturasi Budaya
pada Bangunan Masjid Gedhe Mataram Yogyakarta” (2017) menjelaskan
pengaruh budaya Hindu terlihat kental pada bagian luar kompleks
Masjid Gedhe Mataram. Pengunjung akan melihat gerbang masjid
berbentuk gapura seperti yang ada pada candi. Dinding pagar yang
mengelilingi masjid, di sisi lain, juga berhiaskan relief candi.

Terdapat pula tempat pemandian yang dilengkapi dengan gapura
di dalam kompleks masjid. Dinding makam keluarga besar
trah raja-raja pun berhiaskan ornamen seperti di candi.

4. Mengadopsi budaya Jawa dan Islam

Di samping budaya Hindu, Masjid Gedhe Mataram juga menyerap
budaya Jawa dan Islam. Bangunan yang dengan ciri budaya Jawa
yakni pacaosan, yang biasanya digunakan sebagai ruang tunggu
ketika ada kegiatan di masjid.

Dalam tata ruang Jawa, pacaosan merupakan tempat seseorang
menunggu ketika ingin masuk ke ruang raja. Tata ruang di luar
Masjid Agung Kotagede pun menyerupai pola kerajaan Islam Jawa,
di mana ada halaman yang menyerupai alun-alun,
lengkap dengan pohon beringin.

5. Atap mirip pagoda China

Unsur budaya China seperti atap berbentuk tajug bersusun tiga yang menyerupai pagoda,
pembuatan pondasi dari batu alam, dan penggunaan dinding batu bata tampak pada
Masjid Agung Kotagede. Pengaruh ini tidak terlepas dari sejarah orang China
yang datang ke Nusantara untuk berdagang

 

 

 

 

Sumber Artikel : Sumber

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WeCreativez WhatsApp Support
Mindo Lagi online nih, Silahkan Tanya Apa saja.
👋 Halo Ndoro, Ada yang bisa di bantu?
Keranjang Belanja